Skip to main content

Posts

Gunung

Recent posts

Jalan kaki

Ketika aku mulai berjalan
Lalu menginjakkan kakiku
Aku selalu bertanya
Apakah ini jalan yang benar?
Benarkah ini jalannya?
Atau ini salah?
Salahkah ini?Seperti sebiji paku menyelip di kakiku
Gaduhnya pikiran menjadi-jadi
Takut, aku masih merasakannya
Mengambang ribuan pertanyaanYa Raab berikan aku kekuatan

MUZ VIX

Kau mengajarkan segalanya padaku
Pandangan mata adalah cahaya
Senyum dijadikan pertanda
Suara yang telah menyentuh jiwa
Hati yang meluluhkan keegoisan
Raga yang memperlihatkan cinta
Ketidakmungkinan yang selalu aku semogakanKau memberikan segala derita
Tentang resah gundah di saat jauh
Ketakutan dalam kesendirian
Hari-hari yang menyiksa tanpamu
Menggantungkan diriku padamu
Ku harap kau tak meninggalkanku

Rumahku

Jika waktu senggang
Aku tiduran di ranjang
Depan sebuah tv tabung besar
Satu demi satu kuhitung
Tumpukkan tembok batu bata merah
Sebagian tak terlapisi
Lalu atap genteng di atas kepalaku
Dari kanan ke kiri lalu vertikal
Aku menghitungnya
Dikotak-kotakkan reng kayu
Juga sebuah kendi dan bendera
Sebagai pusat atapnyaDi waktu senggang rumahku itu
Aku mulai memahami
Dia bukan sekedar hunian biasa

Muak

Kau membuat kesalahan
Tak habis pikir
Dan aku yang harus menanggungnya
Selama ini, tidak bisakah
Berhenti dan cobalah
Baru sekali ini aku berpikir untuk bahagia
Kandas begitu saja
Aku tak jadi bahagia
Aku muak,

Ingat

Mengingatkan
Haru deru rindu
Api yang membara
Langkah yang membelenggu
Suara nafasmu
Irama cinta dalam lagu
Ketukan hatimu
Membawamu kepadaku

Kawan?

Aku memanggil namamu
Agar kau mendengarku
Terus ku ulangi
Suaraku, rintihan hujan pagi
Jatuh membasahi bumi
Ku coba lagi dan lagi
Tapi kau tetap tidak mengerti
Malah mengabaikan diri ini
Panggilanku penuh arti
Namun kau berpaling menjauhi
Kini tak bersisa lagi
Sedikitpun takkan kau jumpai
Meski kau ketuk hati
Terlanjur kau lukai
Meski air mata membasahi
Tak akan aku kembali
Bahkan secuil harapan kini mati
Kawan macam apa kau ini?